Vinsensius membutuhkan 25 tahun untuk menemukan jati dirinya dan menanggalkan yang salah pada permulaan hidupnya serta menghilangkan kecenderungan untuk memperkaya diri.
Pelajaran: Bukan soal bila mengalami kesulitan untuk menemukan jati dirimu.
Selama 25 tahun Vinsensius berada dalam situasi depresi. Tidak mudah baginya untuk sungguh menemukan jati diri.
Pelajaran: “Bila harus melewati neraka, berjalanlah terus” (Sir Winston Churchill, perdana menteri Inggris selama dan sesudah Perang Dunia Kedua)
Sampai usia 36 tahun (1617) Vinsensius mengisi hidupnya dengan mencari jati dirinya, mencari Allah, mencari nafkah tetap agar ia bisa masuk masa pensiun. Namun apa yang ia peroleh dalam pencarian itu adalah misi pribadi demi orang-orang miskin. Pelajaran: Terkadang hal yang ditemukan lebih baik daripada yang dicari.
Vinsensius merasakan bahwa ia tidak sepenuhnya memperhatikan keluarga dan karena itu ia segan mengunjungi rumah asalnya. Namun demikian ia disambut penuh cinta kasih. Kemudian ia pulang ke Paris dan tak pernah kembali lagi. Selama tiga bulan ia menangis.
Pelajaran: Terkadang ada baiknya bila kita kembali. Terkadang ada baiknya bila kita menangis.
Vinsensius bergaul dengan para bangsawan (De Gondi), tetapi ia makan bersama para pelayan.
Pelajaran: Sikap rendah hati dan bersahaja selalu baik bila bergaul dengan orang.
Akhirnya Vinsensius menemukan misinya, yaitu membawa kabar baik kepada orang miskin. Itu misi yang sama dengan Yesus Kristus. Vinsensius menemukan teladan utama bagi dirinya.
Pelajaran: Sangat baik bila mempunyai target hidup. Lebih baik lagi jika target hidup itu berarti bahwa orang tidak mementingkan dirinya dan bahwa tujuan itu mulia adanya.
Ahli-ahli sejarah menamakan situasi pada masa Vinsensius sebagai ‘musim dingin’: panen tidak berhasil; di mana-mana ada kelaparan; jumlah orang miskin meningkat pesat.
Pelajaran: Baik juga bila mengalami tantangan besar dalam hidup kita. Kita selalu bisa berbuat sesuatu dan mengubah situasi.
Selama masa Vinsensius, kecuali pada bulan-bulan terakhi hidupnya, Perancis selalu dilanda perang. Suatu hal biasa ialah melihat kepala orang dipenggal bila penghayatan imannya dianggap tidak sesuai. Banyak rohaniwan (imam) tidak berkompeten atau mereka melakukan korupsi.
Pelajaran: Jangan bersedih hati bila keadaan tidak menguntungkan. Dalam situasi ini pun kita boleh melakukan sesuatu agar situasi menjadi baik dan berbuah
Dalam hidupnya (secara khusus sekitar tahun 1610-1660) jumlah penduduk di Paris berkembang dari sekitar 200.000 menjadi 400.000 jiwa. Pemerintah kota tidak mampu memberi air dan makanan yang cukup atau mengelola sampah. Penyakit-penyakit terus menular.
Pelajaran: Terkadang suatu perkembangan membuat situasi menjadi buruk. Namun manfaatkanlah kemungkinan-kemungkinan yang ada lewat perkembangan ini.
Vinsensius memanfaatkan pembimbing dan penasehat : Pierre de Berulle dan Fransiskus dari Sales menjadi pembimbingnya. Vinsensius sendiri menjadi penasehat bagi orang lain, dan itu menghasilkan buah berlimpah bagi mereka: Jean Jacques Olier, Yohana De Chantal dan Luisa De Marillac.
Pelajaran: Seorang pembimbing berperan besar. Pilihlah orang baik. Kiranya kita sendiri berlaku sebagai pembimbing yang baik.
Vinsensius menemukan seorang mitra kerja yang cocok dalam diri Luisa De Marillac. Luisa turut serta dalam menata sebuah organisasi dan mengubah situasi masyarakat luas. Luisa sama dengan Vinsensius: mereka bukan orang yang sempurna; mereka mengalami pelbagai kesulitan, akan tetapi keduanya memiliki kemauan kuat.
Pelajaran: Tiada orang yang sempurna. Terimalah mereka apa adanya dan bangunlah kerja sama dengan mereka.
Seorang rahib menawarkan kepada Vinsensius sebuah kompleks besar, yang disebut Saint Lazare. Letaknya persis di luar batas kota Paris. Luasnya 74 hektar. Dibutuhkan satu setengah jam berjalan untuk mengelilingi lokasi ini. Pada awalnya Vinsensius menolak tawaran itu, karena tanah itu begitu luas juga mahal serta dapat mengubah tujuan kongregasinya. Tepat pandangan Vinsensius. Rahib itu hanya ingin melepaskan tanah itu.
Pelajaran: Prinsip utama dalam dunia ekonomi adalah: tak apapun diperoleh secara cuma-cuma. Jangan mau meraih sesuatu yang besar dan menikmatinya tanpa berpikir lebih jauh. Ahli managemen Jim Collins menganjurkan kepada orang untuk ber-BHAG: ‘Big Hairy Audacious Goals’ (Sasaran besar dan berani). Pada awalnya baik rahib itu mau pun Vinsensius tidak melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada di Saint Lazare.
Setelah satu tahun Vinsensius membeli Saint Lazare dan berdomisili di situ. Gedung-gedung itu dihuni oleh orang sakit jiwa, orang kusta, anak jalanan, imam-iman yang bermasalah dan banyak orang yang sungguh miskin. Seakan-akan Vinsensius mengorganisir sebuah hotel dengan kapasitas 600 tempat tidur. Sejak awal segala sesuatu ia atur dengan baik.
Pelajaran: Terkadang dibutuhkan waktu cukup agar rencana yang baik menjadi jelas. Vinsensius mendapat Big Hairy Audacious Goal dengan bantuan Allah (“Allah yang mengerjakan itu”).
Vinsensius bukan orang yang berbadan tinggi. Tinggi badannya kurang dari 1.70 meter. Pelajaran: Ketinggian badan tidak menggambarkan apa-apa. Orang kecil pun bisa berbuat hal yang baik.
Vinsensius mengombinasikan doa, refleksi dan aksi dalam hidup dan karyanya. Pelajaran: Segala sesuatu menjadi lebih mudah dan seimbang jika mengom-binasikan dasar-dasar kehidupan.
Vinsensius memilih untuk mempraktekkan kehidupan terlebih dahulu dan setelah itu ia menulis sebuah pedoman hidup. Setelah lembaganya berjalan selama 30 tahun, barulah ia menulis pedoman hidup untuk Kongregasi Misi.
Pelajaran: Refleksikan selalu kehidupan dan dalam perjalanan bisa dilakukan perubahan-perubahan kecil bila diperlukan.
Vinsensius hidup selama 80 tahun. Ia merasa bahwa ia belum berbuat banyak menjelang akhir hidupnya. Usia rata-rata di zaman itu adalah 35-37 tahun.
Pelajaran: Dapat terjadi bahwa kita memperoleh lebih banyak waktu dan kesempatan untuk berbuat baik daripada hak kita. Tidak ada kata terlambat untuk mulai berbuat baik. Ketika Oskar Schindler merefleksikan hidupnya, ia mengatakan: “Sebetulnya saya bisa berbuat lebih banyak.” Demikian Vinsensius mengatakan pada saat mendekati ajalnya. Ditanyakan kepadanya apa lagi yang ia bisa perbuat selama hidupnya? Ia hanya menjawab: “lebih”.
Vinsensius adalah seorang petani dan pembela. Pelajaran: Ingat selalu asalmu, dan bantulah orang yang ketinggalan agar mereka juga bisa berkembang.
Vinsensius memiliki semangat yang luar biasa, ia pandai dalam hal bercerita dan ia menawan hati para wanita. Pelajaran: Kita perlu mengetahui talenta yang ada, menyadari segi kuat dan lemah dan memanfaatkannya.
Vinsensius pernah menjual seekor kuda yang ia sewakan, kemudian ia menghilang selama dua tahun. Setelah kembali ia menulis sebuah kisah panjang mengenai pengalamannya selama dua tahun itu. Setelah sekian tahun ia mencari-cari ‘catatan terkutuk itu’. Ia tidak pernah lagi berbicara tentang kisah yang luar biasa itu.
Pelajaran: Tidak masalah bila di masa lampau terdapat hal yang tidak membanggakan hati. Pada saat ini kita bisa berbuat hal-hal yang baik.
Vinsensius tertarik pada orang miskin di pedalaman. Di masa itu 98 persen dari para penduduk hidup di pedalaman bukan di kota.
Pelajaran: Pergilah ke tempat dimana terdapat kesulitan; jangan tunggu sampai kesusahan datang kepada kita. Ketika Vinsensius membuka Saint Lazare ia menyampaikan kepada para karyawan agar mereka tidak menunggu permintaan tamu-tamu bila mereka membutuhkan handuk atau sabun, melainkan berikanlah kepada mereka secukupnya sebelum diminta. Pada waktu Willie Sutton, perampok bank yang terkenal, ditanya oleh polisi mengapa ia merampok bank, ia menjawab: “sebab di situlah terdapat uang.” Vinsensius menyampaikan khotbah yang sangat bernilai; khotbah itu mengubah hidupnya dan hidup kaum miskin di Perancis. Khotbah di Folleville mengejutkan dirinya dan memberi arah pada hidupnya. Nyonya De Gondi menghibahkan kepadanya uang senilai 2,5 juta dollar untuk pembiayaan awal misinya.
Pelajaran: Perhatikanlah orang, dan berjuanglah agar anda bisa menjadi pandai baik secara lisan mau pun tertulis, sehingga dapat menjadi seorang pemimpin yang efektif.
Lewat khotbah kedua yang begitu penting, banyak orang termotivasi untuk membawa makanan dan obat-obatan, tampak seperti sebuah pawai besar di mana orang berbondong-bondong menuju rumah keluarga miskin itu. Vinsensius melihat hal itu dan menyadari bahwa begitu banyak orang tergerak karena kasih namun langkah mereka itu tidak diatur secara baik. Kontribusi Vinsensius yang terbesar adalah kepandaiannya mengorganisir karya amal untuk kaum miskin. Untuk pertama kalinya hal itu terlihat dalam sejarah.
Pelajaran: Perhatikanlah pengalaman-pengalamanmu. Boleh jadi bahwa justru di dalamnya terdapat andilmu yang terbesar.
Vinsensius mampu meyakinkan pihak pemerintah bahwa cara penanganan mereka terhadap para narapidana tidak cocok dan harus diubah dengan perlakukan yang lebih manusiawi.
Pelajaran: Janganlah kekuatan dan pengaruhmu untuk berbuat baik dianggap sepele.
Vinsensius tidak takut mengubah peraturan sejauh itu dibutuhkan. Ia pun tidak takut mencabut peraturan yang tidak sesuai.
Pelajaran: Setiap orang bisa bersalah; belajarlah dari itu dan teruskan perjalananmu.
Sebelumnya ia mendorong para imam agar mereka memperhatikan kaum miskin, ia mendidik dan mengarahkan mereka.
Pelajaran: Tempat yang paling cocok untuk memulai sesuatua adalah tempat di mana kita berada. Tidak mungkin kita bertindak sendirian; seorang guru ada sekaligus seorang pemimpin.
Vinsensius pernah menulis kepada salah satu pemimpin bagian tertentu bahwa ia sudah menerima keluhan-keluhan tentang mutu makanan dan anggur yang murah yang disajikannya. Ia menyampaikan bahwa pemimpin itu harus menyajikan makanan dan anggur yang baik bagi mereka yang melayani orang-orang miskin.
Pelajaran: Berikanlah perhatian baik kepada orang dan personalia; rayakanlah kesuksesan kecil mereka.
Kesimpulan
Pelajaran terpenting dari Vinsensius adalah bahwa ia seorang yang bergerak. Apabila ia memutuskan untuk berbuat sesuatu, ia meminta pelayanan yang pro-aktif. Pujo berkomentar tentang Vinsensius begini: “Ia percaya akan keutamaan yang terdapat dalam aksi, dan motonya adalah: Totum opus nostrum in operatione consistit (aksi adalah tugas utama kita)” (Pujo, 251).
Orang-orang besar manakah yang melayani kaum miskin? Muder Teresa? Fransiskus dari Assisi? Siapa lagi? Siapa yang mengorganisir tenaga kerja demi melayani kaum papa? Bukan Yesus, bukan Fransiskus, bukan Muder Teresa yang melakukan segala itu. Vinsensiuslah yang melakukan itu.
Yesus adalah inspirator utama: “Aku telah datang untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang miskin” (Lukas 4:18).
Fransiskus dari Assisi berkotbah tentang itu dan ia mewujudkannya. Vinsensius berbuat demikian dan menambahnya dengan menciptakan sebuah organisasi. Kemudian ia memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dalam membangun relasi dengan orang miskin dan menanamkan ini pada organisasinya.
Fransiskus dari Assisi berkotbah tentang itu dan ia mewujudkannya. Vinsensius berbuat demikian dan menambahnya dengan menciptakan sebuah organisasi. Kemudian ia memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dalam membangun relasi dengan orang miskin dan menanamkan ini pada organisasinya (Melito, 62).
Apa yang akan dilakukan Vinsensius di zaman kini?
Walt Disney meninggal sebelum ia mewujudkan pembangunan taman ria Disneyworld . Dewan pimpinan Disney memutuskan untuk menunda proyek itu. Akan tetapi Roy, adik dari Walter, mengatakan: “Marilah kita membangun proyek itu demi Walt”. Kemudian taman ria itu dibangun dan diresmikan. Proyek itu menjadi taman yang paling berhasil dan digemari oleh keluarga-keluarga. Selama 23 tahun pimpinan Disneyland selalu bertanya bila harus mengambil suatu keputusan: “Apa yang akan dilakukan Walt?” Akhirnya mereka selalu mengalami kebuntuan dengan pertanyaan demikian. Cara ini orang-orang nenyebutnya sebagai “managemen khayalan”.
Di masa kini pun kita bisa dengan mudah tersesat dengan selalu bertanya: “Apa yang akan Vinsensius lakukan?” atau “Apa yang akan Yesus lakukan?” Kita tentu akan menemukan jalan bila kita menggunakan pertanyaan yang pernah diajukan nyonya De Gondi kepada Vinsensius: “Di sini harus terjadi sesuatu; apa yang bisa saya perbuat?” Vinsensius menyampaikan pertanyaan tersebut kepada umat di Chatillon dan mereka tergerak dengan membawa makanan kepada orang miskin. Vinsensius menceriterakan kepada raja Perancis tentang kondisi kehidupan para budak pendayung dari armada negara dan sang Raja mengutus Vinsensius untuk memperbaiki situasi ini.
Kiranya kita melihat bahwa harus melakukan sesuatu, lalu dengan berani bertanya pada diri kita: “Apa yang harus saya lakukan?“ Itu merupakan jawaban atas pertanyaan: “Apa yang akan Vinsensius lakukan?”

4 Komentar
Mantap sudah
BalasHapusMantap, Bang Mike...saya jadi tergerak ikut mengisi di sini, Bang...
BalasHapusboleh pak, ini media kita. teman-teman yang mau jadi kontributor berupa photo atau artikel yang sifatnya pelayan sangat di tunggu.
HapusMantappp bg mike
BalasHapus