Selama empat abad silam setelah Vinsensius berkarya di dunia ini, telah tertulis lebih dari 1.500 buku biografi. Ada  buku berseri, ada buku yang kurang berbobot, ada buku yang bernada alim, dan ada buku yang sangat baik. Tujuan dari buku saya ini lebih berfokus pada beberapa halaman tertentu yang memperlihatkan pencapaian Vinsensius, dan apa yang  bisa kita belajar dari sang guru ini sebagai andil yang mempengaruhi dunia ini. 

Jadi buku ini tidak mengulas spiritualitas Vinsensius, hidup doanya, teologi, sejarahnya atau kisah-kisah hebat tentang dia. Terdapat sejumlah sumber lain berhubungan dengan topik-topik tersebut. Saya menganjurkan mereka yang ingin mempelajari lebih jauh agar melihat daftar buku dan tulisan singkat yang terdapat pada bagian belakang dari halaman buku kecil ini.

Apa alasan kita untuk memperhatikan seseorang yang hidup 400 tahun silam?
Apa yang  bisa kita belajar dari dia yang tetap memberi arti bagi dunia di zaman kini? Saya memberi beberapa alasan:
“Prestasi Vinsensius yang terbesar —Opera Omnia— adalah sejumlah karya amal yang  pernah ia mulai dan yang masih berkembang terus sampai kini sebagai warisannya.”  (Melito, 41)


• Warisannya melampaui karya hidupnya 
• Karyanya mengubah pandangan kita terhadap kaum miskin. 
• Caranya dalam hal mengorganisir bantuan untuk kaum miskin    merupakan bentuk utama dalam sejarah. 
• Ia seorang pria yang manusiawi: egosentris, pelit, berambisi,      terbatas dan tersesat, sampai ia disentuh oleh Roh. 
• Ia memberi segala sesuatu kepada yang miskin dan mengalami    diri jauh lebih kaya daripada sebelumnya. 
• Dunia melawan dia, tetapi ia bisa mengubah dunia itu.  
• Selama 3,5 tahun ia menderita depresi. 
• Selama 25 tahun ia mencari kepentingan pribadi dan kemudian     ia menemukan Allah dan kaum miskin.
Dengan alasan apakah begitu banyak orang dari berbagai penjuru dunia ini ingin mengikuti jejaknya penuh hasrat, sekalipun ia sudah wafat 400 tahun silam?

• Anggota Serikat Vinsensius                            800.000 
• Anggota Putri Kasih                                       16.000 
• Anggota Kongregasi Misi (CM)                     3.231 
• Anggota Nyonya Kasih (AIC)                        150.000 
• Anggota ‘Vincentian Marian Youth’               100.000 
• Staf & Sukarelawan Depaul Internasional      2.000 
• Jumlah organisasi dalam Keluarga Vinsensian    40 
• Jumlah lembaga yg diilhami oleh Vinsensius     250

Apa makna namanya?
Ia selalu menulis namanya dengan “Vincent Depaul”. Ia sama sekali tidak menghendaki bahwa orang memandang dia sebagai seorang bangsawan. Ini bisa terjadi jika ia menulis namanya dengan dua huruf besar: ‘De Paul’. Orang yang sungguh menghormatinya memberi pelbagai gelar seperti: orang kudus, orang alim, pria yang suci, rasul kasih atau setelah ia wafat diberikan gelar “père de la patrie”, bapak negara. Namun demikian ia sendiri lebih suka dipanggil ”Monsieur Vincent” – Bapak Vinsensius. Dengan demikian jarak antara dia dan orang lain, khususnya yang miskin, semakin diperkecil.
 
Dunia pada awal abad ketujuh belas Vinsensius lahir pada tahun 1581. Selama hidupnya, Perancis selalu dilanda peperangan, kecuali beberapa bulan terakhir dalam hidupnya. Ketika Vinsensius lahir, kota Paris berpenduduk kurang lebih 200.000  jiwa. Ketika Vinsensius meninggal pada tahun 1660, jumlah penduduk kota Paris telah naik dua kali lipat. 
Di zaman itu terdapat tiga tingkatan sosial dalam masyarakat: bangsawan, petani dan rohaniwan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hanya orang bangsawanlah yang bisa hidup dengan nyaman. Para petani hanya bisa hidup bila mereka mengerjakan ladang-ladang bangsawan. Hanya bila orang menjadi rohaniwan (imam) merupakan suatu jalan  menuju perubahan dalam tingkatan sosial.

Kelahiran: Vinsensius lahir pada bulan April 1581. Biografi pertama menyatakan bahwa ia lahir tahun 1576. Ini dibuat agar tidak terlihat bahwa Vinsensius ditahbiskan menjadi imam pada usia yang terlalu muda, sehingga tidak berlawanan dengan peraturan yang berlaku. Ia ditahbiskan pada tahun 1600 ketika ia masih belajar. Waktu luang ia  manfaatkan untuk menangani sebuah asrama, agar bisa membantu biaya pengeluaran pribadinya. Tahun 1604 ia meraih diploma di  bidang teologi.

Setelah menyelesaikan studi,  ia menghilang selama dua tahun dan kemudian muncul lagi di kota Roma. Orang bertanya: Apakah ia melarikan diri karena mengalami kesulitan dengan biaya studinya? Di Roma ia tidak bisa menjadi kaya, maka Vinsensius kembali ke Paris.  Situasi ini membuatnya depresif  dan tertekan, karena tidak berhasil memperoleh uang dan pemasukan yang diidamkan. Pada tahun 1610, uang mulai mengalir untuk dia. Ia menulis kepada ibunya bahwa dalam waktu dekat ia akan mengirim uang sehingga  keluarganya bisa hidup dengan baik pada hari yang akan datang. 

Juga ditulis bahwa dalam waktu dekat ia akan masuk masa pensiun. Usianya waktu itu baru 29 tahun.  
Perubahan dalam diri Vinsensius
Di masa mudanya Vinsensius hanya bercita-cita untuk menaikkan  status, memperoleh cukup uang agar bisa hidup dengan nyaman, memperhatikan keluarganya sendiri dan masuk masa pensiun sebelum berusia tiga puluh tahun. Semuanya itu hampir tercapai. Akan tetapi sebelum ia mencapai usia 36 tahun, terdapat perubahan besar dalam hidupnya. Usianya hampir sama dengan Yesus ketika Ia menemukan misinya.

Malcolm Gladwell menulis tentang perubahan: “Tiba saatnya dalam hidup seseorang di mana sekian hal mengalami keseimbangan dan karenanya hidup seseorang berubah; orang itu diantar kepada sesuatu yang baru.” Bagi Vinsensius perubahan itu disebabkan oleh dua peristiwa di tahun 1617: berawal pada bulan Januari di kampung Folleville, ketika ia berkhotbah tentang nilai utama yang terdapat dalam praktek pengakuan dosa. Hasilnya luar biasa, sehingga ia harus memanggil imam-imam Jesuit agar bisa menerima begitu banyak orang yang ingin mengaku dosa. Di Folleville Vinsensius bertemu dengan orang-orang  miskin yang membutuhkan bimbingan secara rohani. Ia mengalami bahwa dengan kecerdasan yang ada padanya ia  mampu mengilhami orang lewat khotbahnya. 

Peristiwa kedua terjadi di bulan Agustus. Vinsensius sudah meninggalkan majikannya, keluarga kaya De Gondi, dengan maksud menjadi pastor di Chatillon-les-Dombes. Di situ ia mendengar berita tentang suatu keluarga yang semua anggotanya sakit. Mereka tidak mempunyai makanan, tiada obat dan tidak ada orang yang memperhatikan mereka. Dalam khotbahnya Vinsensius menyinggung keadaan keluarga itu. Hasilnya luar biasa: semua orang mau membantu. Vinsensius mengalami sesuatu yang mengubah karya hidupnya: terdapat banyak kasih, namun itu tidak terorganisir dengan baik. Ia langsung mengatasi situasi ini. Ia menciptakan suatu organisasi amal yang untuk pertama kalinya terorganisir di paroki ini. Sebelum Natal 1617 segala sesuatu sudah berjalan dengan baik. 

Vinsensius kembali kepada keluarga De Gondi. Hal itu mengecewakan umat parokinya di Chatillon. Nyonya De Gondi melihat bahwa ia semakin mencintai kaum miskin dan mengusulkan kepadanya dua kemungkinan: Vinsensius kembali ke Chatillon yang telah memberinya kebahagiaan melalui perhatiannya kepada orang miskin atau  mengarahkan perhatiannya kepada semua orang miskin di Perancis dengan mengorganisir bantuan kepada mereka yang membutuhkan bantuan. 

Mendengar kemungkinan- kemungkinan itu Vinsensius merasa senang dan bahagia. Nyonya De Gondi sudah menduga reaksi Vinsensius dan mau menghibahkan 2,5 juta Dollar - sejumlah uang yang sangat besar -  agar ia bisa memulai karya amalnya. Vinsensius sudah mendapatkan misi Yesus Kristus: “Aku telah datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin.” Itulah yang menjadi misi bagi Vinsensius.

Pada usia 32 tahun ia mengunjungi keluarganya untuk terakhir kalinya. Ia merasa gagal, karenanya ia malu. Terlihat bahwa sulit baginya untuk membantu masa depan keluarga. Ia melepaskan haknya atas warisan dan menyatakan bahwa bagian warisannya menjadi milik keponakannya. Keluarga Vinsensius tetap mencintainya, sebab ia mempunyai kasih yang baru: kasih terhadap kaum papa. Vinsensius kembali ke Paris, namun ia begitu rindu akan keluarganya sampai ia menangis selama tiga bulan. 

Pada tahun 1625 Vinsensius mendirikan Kongregasi Misi (Lazaris/CM). Agar dapat melayani kaum miskin, perlu keterlibatan  Gereja dan paroki dalam menjalankan tugas pelayanan itu. Pihak Gereja ikut ambil bagian, terutama harus merubah hati para rohaniwan yang kurang terdidik dan korupsi. Ketika ia meminta bantuan para imam, kelihatan bahwa mereka kurang mampu; kebanyakan mereka tidak hidup sesuai dan tidak bersahaja.

Seorang uskup pernah mengatakan tentang imam-imam dalam keuskupannya sebagai berikut:  
 “…terdapat sejumlah besar imam yang bodoh dan melakukan   korupsi. Tampaknya mereka tidak lagi bisa dikendalikan lewat  perkataan dan teladan yang baik.  Secara terus-menerus pikiran   saya amat terganggu bila saya mengingat bahwa di dalam keuskupan   saya terdapat kurang lebih tujuh ribu imam yang mabuk dan hidup   tidak sesuai, mereka berdiri di depan altar namun tidak memiliki   panggilan.” (Paul, 473) Dengan mengubah sikap kaum imam, Vinsensius sungguh-sungguh mulai melayani kaum miskin. Pada tahun 1633 Vinsensius mendirikan Puteri Kasih. Ia memulainya bersama dengan Luisa de Marillac, seorang wanita yang bertalenta. 

Ketika menjadi janda ia datang kepada Vinsensius untuk meminta nasehatnya. Pada tahun yang sama Vinsensius membeli ‘Saint Lazare’, sebuah biara dengan tanah luas di pinggir kota Paris. Ia mulai dengan menata sebuah organisasi yang sebelumnya tidak pernah kelihatan di dunia organisasi-organisasi pada zaman itu. Vinsensius dan Luisa memanfaatkan kerja sama mereka, sehingga dalam beberapa tahun kemudian karya sosial mereka berkembang dengan pesat. Kedua-duanya tidak memiliki kecakapan cukup, dan mereka bukan sempurna.  Namun melalui kerjasama muncullah yang terbaik dari yang mereka miliki dalam bidang kepemimpinan. Mereka mengubah dunia amal kasih. Mereka saling melengkapi demi meraih hasil tersebut. 

Rangkuman
Vinsensius telah menata organisasi-organisasi amal kasih dalam periode 1635-1660 yang saling membantu, dan secara tertulis ia  menyampaikan petunjuk-petunjuk ketika ia tidak sempat hadir. Ia menulis lebih dari 30.000 surat; 11.000 surat masih tersimpan. Vinsensius memiliki banyak talenta, ia terdidik dan berkemauan tinggi. Menurut penelitian dari lembaga McKinsey & Company tentang pengaruh seseorang, ternyata hanya sedikit orang yang memiliki talenta. Justru talenta sangat menentukan perbedaan antara seorang dengan yang lain. 

Orang yang bertalenta jauh lebih berhasil dan berkembang bila dibandingkan dengan orang lain. Sebagai contoh: 16 komponis  menciptakan 50 % dari musik klasik yang digemari orang. Sisanya diciptakan oleh 235 komponis lain. Sekitar 50 % dari semua buku yang ada di perpustakaan terbesar dunia, yaitu Library of Congres di Washington (Amerika Serikat),  ditulis oleh sekitar 10 % para pengarang.  Para pengarang terkenal mempunyai kesalahan yang sama bila dibandingkan dengan orang lain, namun mereka menghasilkan lebih banyak. Itu sebabnya mereka meraih hasil yang luar biasa. 

Vinsensius termasuk dalam kelompok orang seperti itu: ia hidup lebih lama, membuat kesalahan-kesalahan dan meraih  sukses lebih banyak bila dibandingkan dengan orang-orang sezamannya. 
Mia Hamm, pemimpin kesebelasan sepak bola wanita nasional AS, yang memperoleh medali emas Olimpiade pada tahun 1996, menyatakan: 
 “Unsur-unsur kesuksesan kami adalah: komunikasi, saling pengertian,   saling menghormati dan kemampuan untuk bekerja sama. Selama   dua belas tahun hal-hal tersebut dikembangkan di kalangan pemain.” 

Source : Berbagai Sumber